Selayang Pandang

img img-thumbnail img-responsive

SEJARAH DESA

Sesuai dengan yang dikatakan katakan oleh bapak Proklamator Indonesia Ir.Soekarno "Jangan Sekali-kali melupakan sejarah, Bangsa Yang besar adalah bangsa yang mengetahui tentang sejarahnya" maka dari itu sesuai dengan semangat dan cita-cita sejarah yang diperjuangankan oleh beliau maka seluruh elemen masyarakat desa Janti berusaha menggali sejarah asal - usul terbentuknya desa Janti yang konon dari cerita atau dongeng dari mulut ke mulut dan turun temurun desa Janti memiliki sejarah yang panjang dan sudah ada sejak zaman majapahit.

Sekilas uraian singkat mengenai sejarah asal-usul desa Janti "Sejarah wong kang babah desa Janti" di desa Janti terdapat tiga dukuhan yaitu dusun Kagulan, dusun Janti dan dusun Dukuh Sari menurut cerita yang berkembang di masyarakat desa Janti yang dulu masih berupa alas gung lewang liwung (Hutan Belantara), hutan ini masuk ke dalam wilayah wirasaba sebutan pada zaman Mojopahit (sekarang berubah nama menjadi kecamatan Mojoagung) dahulu disini adalah daerah luar pertama yang berbatasan dengan benteng keraton mojopahit, konon dahulu raja mojopahit Prabu Brawijaya V memerintahkan Mbah Dhonopuro seorang petani untuk membabat alas wirasaba untuk di jadikan sebagai ladang pertanian kerajaan.

Mbah Dhonopuro menetap dan menjadikan daerah ini sebagai perkampungan / Desa kecil. Dikisahkan oleh masyarakat jaman dulu bahwa daerah Desa Janti dulunya adalah hutan belantara yang banyak ditumbuhi pohon jati. Di daerah tersebut ada dua pohon jati yang tidak bisa ditebang yang terletak di sawah dusun Janti karena konon katanya dihuni oleh mahluk astral yang berwujud burung gagak. Hingga sepeninggal Mbah Dhonopuro pohon tersebut masih berdiri kokoh dan tidak bisa ditebang.

 Kembali ke perkembangan desa pada masa pemerintahan mojopahit pada masa kehancuran setelah Perang Paregreg, berkembanglah kasultanan Demak di tanah Jawa dan pengaruh siar WALISONGO. Pada masa kesultanan Demak ini lah datang seorang Alim ulama’ yang bernama Ahmad muntaha (Mbah Surgi) dari Ponorogo yang merupakan menantu dari Mbah Hasan Sanusi (Besan dari Mbah Raden Alif) di desa tersebut. Singkat cerita Mbah Ahmad Muntaha / Mbah Surgi melakukan tirakat dan munajat agar kedua pohon jati tersebut bisa ditebang. Setelah tirakat dan munajat Mbah surgi tuntas terlaksana tibalah di hari penebangan pohon jati tepatnya pada hari Jum’at Legi. Akhirnya kedua pohon jati tersebut berhasil dipotong oleh Mbah Surgi dengan menggunakan paruh burung gagak yang konon katanya sebagai makhluk astral yang menghuni kedua pohon jati tersebut.

Ahmad Muntaha (Mbah Surgi) akhirnya menetap dan menyiarkan agama Islam didesa tersebut hingga belia wafat dan dimakamkan di Dusun Dukuh Sari Desa Janti.

Dari kisah pohon jati tersebut kemudian nama sawah sebagai tempat tumbuhnya kedua pohon jati tersebut diberi nama sawah kembar hingga saat ini dan dari kisah pohon jati itu ditetapkanlah desa tersebut dengan nama Desa Janti dengan filosofi BEJANE WONG SING ATI-ATI.

Hingga saat ini masyarakat Desa Janti selalu melakukan kegiatan keagamaan seperti khotmil Qur’an, istighosah, membaca tahlil dan lain-lain pada hari kamis malam jum’at legi untuk mensyiarkan agama islam dan sekaligus mengenang keberhasilan Mbah Surgi dan setiap tahun di bulan rojab selalu diadakan khol untuk mengenang wafatnya Mbah Ahmad Muntaha (Mbah Surgi).